Perceraian Orang Tua dan Anak Remaja
➢ Pendahuluan
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini anak remaja lebih mudah terpengaruhi oleh teman sebaya dan lebih mementingkan solidaritas kelompok serta emosi yang tidak stabil dapat membuat remaja menjadi moody-an dan mudah terjerumus ke perilaku menyimpang. Remaja juga harus beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikisnya dalam bentuk pencarian jati diri dan membentuk hubungan baru sebagai pengekspresian seksual. Sehingga menuntut remaja untuk dapat memutuskan,merencanakan,mengontrol dan mengarahkan tindakan dalam suatu tujuan hidup agar dapat diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu,proses adaptasi sangat penting dan sangat mempengaruhi remaja dalam pencarian jati diri dan dalam penyeimbangan empsi agar terpenuhinya tujuan hidup dan dapat diterima oleh masyarakat.
Kegagalan dalam penyesuaian diri anak remaja yang menjadi korban perceraian orangtua menyebabkan remaja mendapat kesulitan dalam menyesuaikan dirinya pada suatu kondisi yang baru, akhirnya di dalam dirinya timbul perasaan kegelisahaan, sedih, marah dan konflik bathin yang hal ini termanifestasi dalam bentuk perbuatanya seperti tidak dapat memusatkan perhatian, kurang semangat disebabkan oleh perceraian orang tua. Peristiwa ini dapat mengganggu kehidupannya, maka ia takut menjalin persahabatan, takut berusaha keras di sekolah, sehingga mengakibatkan kesulitan dalam belajar yang mempengaruhi prestasinya di sekolah.
➢ Dampak perceraian
Perceraian akan membawa dampak negative bagi seluruh keluarga. Traumatis pada kedua pasangan yang bercerai maupun pada anak,dan menimbulkan ketidakstabilan dalam pekerjaan maupun sekolah. Hal ini menimbulkan psikologis yang tidak stabil,perasaan marah sedih,merasa tidak berharga,sedih dan tidak nyaman selalu menghantui sehingga dapat mengganggu kehidupan sehari hari.
➢ Pembahasan
Peristiwa perceraian dalam keluarga senantiasa membawa dampak yang mendalam.Kasus ini menimbulkan stres dan menimbulkan
perubahan fisik, juga mental.Keadaan ini dialami oleh semua anggota keluarga, ayah, ibu, dan anak. Data dari Pengadilan Agama Samarinda menyatakan bahwa angka kasus perceraian terhadap perkawinan dari 3 tahun terakhir menunjukan angka yang cukup besar. Tahun 2009 kasus perceraian yang terjadi mencapai angka 1.383 perkara, tahun 2010 terjadi penurunan kasus perceraian dengan angka 1.189 perkara, dan pada tahun 2011 mengalami kenaikan kembali dengan angka 1.282 perkara. (Ningrum, 2013)
Perceraian bagi remaja merupakan suatu cobaan yang besar, dimana remaja merasa tidak dicintai lagi dan remaja kehilangan kepercayaan akan adanya cinta sejati. Gejolak emosi pada remaja bisa saja membuat remaja menjadi gagal dalam beradaptasi. Perceraian bagi anak adalah tanda kematian keutuhan keluarganya, rasanya separuh diri anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orangtua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam, perasaan kehilangan, penolakan dan ditinggalkan akan merusak kemampuan anak berkonsentrasi di sekolah. Dampak yang bisa terjadi pada anak remaja dari pasangan bercerai, biasanya dari segi psikis. Seperti perasaan malu, sensitif, rendah diri. Sehingga perasaan tersebut dapat membuat remaja menarik diri dari lingkungan.
Perceraian dan perpisahan orang tua menjadi faktor yang sangat berpengaruh bagi pembentukan perilaku dan kepribadian remaja sehingga terjadi kenakalan remaja. Peneliti bertujuan untuk meneliti mengenai Juvenile Delinquency (Kenakalan Remaja) pada korban perceraian orang tua. Subjek yang diteliti dalam penelitian ini adalah remaja putra yang berusia 16 tahun, korban perceraian orang tua dan memiliki kecenderungan Juvenile Delinquency (kenakalan remaja). Penelitian ini dilakukan secara studi kasus, dengan pengumpulan data dan menggunakan metode wawancara sebagai metode utama, observasi dan pengamatan. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil, bahwa subjek yang memiliki orang tua yang bercerai mengalami kerinduan terhadap figur kedua orang tua. Hal ini terjadi karena subjek telah kehilangan kedua orang tua untuk panutan masa depannya. Perceraian Orang Tua Keluarga merupakan lingkungan terdekat untuk membesarkan, mendewasakan dan didalamnya remaja mendapatkan pendidikan pertama kali. Setiap orang pasti mendambakan keluarga yang harmonis, keluarga yang penuh dengan rasa aman, tenang, riang gembira dan saling menyayangi diantara anggota keluarga. (Prihatinningsih, 2011)
Penelitian lain juga dilakukan untuk mendapatkan hasil yang akurat. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif yang berjumlah sepuluh remaja dari keluarga bercerai. Mereka diambil secara purposive sampling. Teknik pengumpulan data memakai teknik observasi dan wawancara mendalam untuk menggali data dari informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman remaja berada dalam keluarga bercerai adalah masa sulit. Pengalaman menjadi remaja terlantar dikomunikasikan secara verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal remaja tercerahkan adalah bahasa motivatif dan keterbukaan. Sedangkan secara non verbal yaitu mengikuti nasihat, penuh kenyamanan, dan penampilan positif. Mereka menjadi remaja-remaja yang memiliki nilai kebaikan dalam konsep diri religius, independen, futuristik, dan maturitas. (Supratman, 2015)
DAFTAR PUSTAKA
Ningrum, P. R. (2013). Perceraian Orang Tua dan Penyesuaian Diri Remaja. Jurnal Psikologi, 1(1), 69–79. Retrieved from http://ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2013/04/JURNAL SKRIPSI PUTRI PDF (04-04-13-09-50-30).pdf
Prihatinningsih, S. (2011). Juvenile Delinquency ( Kenakalan Remaja ) Pada Remaja Putra Korban Perceraia Orang Tua. Jurnal Psikologi Uviversitas Gunadarma.
Supratman, L. P. (2015). KONSEP DIRI REMAJA DARI KELUARGA BERCERAI. Jurnal Penelitian Komunikasi. https://doi.org/10.20422/jpk.v18i2.42

Tidak ada komentar:
Posting Komentar