Dalilah Raihan's
Minggu, 23 Desember 2018
Senin, 17 Desember 2018
MAKALAH PSIKOLOGI UMUM I: ALIRAN-ALIRAN DALAM PSIKOLOGI
PSIKOLOGI UMUM I
Disusun Oleh :
Dalilah Raihan
NIM
: 181301084
Universitas Sumatera Utara
Fakultas Psikologi
2018
KATA PENGANTAR
Pertama
tama marilah kita mengucapkan syukur yang sangat banyak terhadap ALLAH,Tuhan
Yang Maha Esa, yang telah memberikan nikmat kesehatan,kesempatan dan segala
nikmat sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Psikologi Umum I berupa makalah
yang berjudul Aliran Aliran Dalam
Psikologi yang dimana di dalamnya terdapat pembahasan tentang Behaviorisme,
Kognitif, Psikoanalisa, Humanistik, Neuroscience, dan Psikologi Positif.
Tak lupa pula saya mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen penanggung jawab kelas B Psikologi Umum I, Kak/Ibu Amelia Meutia dan saya juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh dosen Psikologi Umum I, yang telah membimbing,mengajarkan serta memberi tugas makalah ini kepada saya.
Harapan saya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua dan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi pembaca. Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Medan,
22 September 2018
Dalilah
Raihan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Asal muasal psikologi ditemukan oleh filsuf Yunani yang bernama Aristotle. Psikologi sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku dan proses mental manusia. Psikologi memiliki sejarah perkembangan yang dapat mengungkapkan pendapat para ilmuwan dan ahli tentang ilmu kejiwaan yang yang terus berkembang dan di perbaharui seiring berkembangnya zaman. Di dalam psikologi sendiri terdapat beberapa aliran yang melandasi psikologi. Aliran-aliran tersebut diantaranya adalah Behaviorisme, Humanistik, Kognitif, Psikoanalisa, Neuroscience, Psikologi Positif.
1.2 Rumusan Masalah
- Apa itu Aliran Behaviorisme?
- Apa itu Aliran Kognitif?
- Apa itu Aliran Humanistik?
- Apa itu Aliran Psikoanalisa?
- Apa itu Aliran Neuroscience?
- Apa itu Aliran Psikologi Positif?
1.3 Maksud dan Tujuan
- Agar dapat menguasai materi tentang aliran-aliran dalam psikologi.
- Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Psikologi Umum I
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Behaviorisme
Behaviorisme
adalah suatu paham yang memandang bahwa kesadaran manusia tidak mungkin dapat
dipelajari secara ilmiah,sehingga paham ini berfokus pada pengalaman sadar
individu. Para pemegang paham ini mempelajari nilai adaptif dari suatu
pengalaman karena menurut penganut paham ini bahwa stimulus asli dan netral
jika di pasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang maka akan
menimbulkan reaksi yang di inginkan.
Teori
ini menitikberatkan kepada perilaku dari suatu individu daripada alam tidak
sadar dari individu itu sendiri,dengan kata lain perilaku dari suatu individu
itu adalah dari suatu proses pembelajaran yang dipengaruhi oleh lingkungan
sekitar.
Para
ilmuan yang mendalami aliran ini disebut behaviorist. Banyak behaviorist yang
meneliti bahwa tingkah laku dari individu dapat berubah jika melalui latihan.
Contohnya Ivan Pavlov,seorang behaviorist asal Rusia,yang meneliti seekor
anjing dan melihat air liur sebagai respon dari stimulus yang diberi. Ia
menjadikan makanan anjing sebagai stimulus asli dan ketika di beri ke anjing
tersebut secara alamiah mengeluarkan air liurnya,pada percobaan berikutnya ia
memberi stimulus netral yaitu bunyi lonceng kepada anjing namun si anjing tidak
memberikan respon apapun. Pada percobaan selanjutnya ia memberikan makanan dan
bunyi lonceng kepada anjing kemudian si anjing memberikan respon dengan
mengeluarkan air liurnya. Percobaaan memberi makan dan membunyikan lonceng di
lakukan secara berulang. Percobaan selanjutnya,ketika lonceng di bunyikan namun
makanan tidak diberi,si anjing tetap mengeluarkan air liurnya. Hal tersebut
terjadi karena adanya proses pengkondisian. Kesimpulannya adalah perilaku
alamiah atau refleks yang diwariskan dapat berubah karena mendapat latihan.
Oleh karena itu menurut Pavlov, pengkondisian sangat penting untuk kelangsungan
hidup.
Tokoh
selanjutnya adalah John B. Watson dan Margaret Floy Washburn yang setuju dengan
Pavlov. Di tahun 1910an, John beserta Margaret membuat sebuah karya yang
berjudul ‘’Psychology as the Behaviorist
Views it’’ yang mana karyanya ini mengenalkan teori behaviorisme kepada
masyarakat Amerika Serikat. Dan dibawah
kepemimpinan intelektual John B. Watson dan B. F. Skinner,behaviorisme
mendominasi penelitian psikologi pada setengah abad ke-21.
Skinner
menekankan bahwa apa yang kita lakukan merupakan ujian terakhir atas diri kita
sebenarnya. Ia meyakini bahwa ganjaran dan hukuman menentukan perilaku kita.
Misalnya seorang anak berperilaku sopan karena orang tuanya telah memberikan
ganjaran atas perilaku tersebut. Orang dewasa mungkin bekerja keras karena uang
yang di dapat dari hasil usahanya tersebut. Menurut kaum behavioristik, bukan
karena motivasi mendalam untuk menjadi seorang yang kompeten, tetapi lebih
karena kondisi lingkungan yang terus menerus kita alami. (Skinner, 1983)
Daftar
Pustaka
Lahey, B.B.
(2009). Psychology : An Introduction 10th
Edition. New York : McGraw-Hill.
Maisto, A.A.
& Morris, C.G. (2005). Basic
Psychology. New Jersey : Pearson Prentice Hall.
King, L.A.
(2007). The Science of Psychology : An
Appreciative View. New York : McGraw-Hill.
2.2 Kognitif
Kognitif
adalah seluruh proses intelektual seperti berfikir, mengingat, memahami,
memutuskan dan sebagainya dimana kognitif ini sendiri sangat penting umtuk
kita. Menurut pemegang paham ini, pikiran merupakan sebuah sistem yang sadar
dan berperan aktif dalam memecahkan masalah (Plessner, Betsch, & Betsch,
2007). Paham ini menolak aliran behaviorisme karena menurut mereka kepribadian
atau perilaku seseorang tidak hanya ditentukan/dipengaruhi oleh lingkungan
sekitar. Karena menurut pandangan dari paham ini proses mental lah yang
berfungsi mengatur tingkah laku kita, berpikir, mengingat, membuat keputusan
dan sebagainya yang kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Para
psikolog yang berada di aliran ini, mereka tertarik dengan bagaimana caranya
kita memproses informasi, memperoleh transformasi, menyampaikan informasi dan
menyelesaikan masalah dengan informasi tersebut.
Dalam
waktu singkat, kognitifdapat membawa dampak besar dalam hampir setiap area
dalam psikologi (Sperry, 1988,1995). Dan menjadi pembelajaran yang paling
terkemuka dalam bidang psikologi kontemporer. (Johnson & Erneling,1997;
Robins at al., 1999)
Daftar
Pustaka
Lahey, B.B.
(2009). Psychology : An Introduction 10th
Edition. New York : McGraw-Hill.
King, L.A.
(2007). The Science of Psychology : An
Appreciative View. New York : McGraw-Hill.
Santrock, J.W.
(2005). Psychology 7Th Edition.
New York : McGraw-Hill
Maisto, A.A.,
& Morris, C.G. (2005). Basic Psychology.
New Jersey : Pearson Prentice Hall.
2.3 Humanistik
Para penganut paham humanistik
percaya bahwa manusia mempunyai sisi-sisi positif dalam dirinya sehingga
berkecendrungan untuk mengubah hidup mereka dengan keputusan yang mereka buat
sendiri dan menghindar dimanipulasi oleh lingkungan. (Maslow, 1971; Rogers,1961).
Manusia mempunyai potensi yang luar biasa untuk memahami dirinya sendiri dan
nilai-nilai kemanusiaan untuk kebaikan dirinya dan untuk dapat membantu orang
lain mencapai pemahaman diri sendiri.
Tokoh
dari paham humanistik ini adalah Abraham Maslow, Carl Rogers, dan Viktor
Frankl. Mereka tidak setuju dengan pandangan Freud, bahwa alam sadar saja yang
penting dalam individu. Dan mereka juga menyangkal bahwa perilaku individu
dipengaruhi hanya dari lingkungan sekitar. Bagi pemegang paham ini mereka percaya
bahwa yang dapat merubah diri manusia menjadi yang lebih baik adalah keinginan
manusia itu sendiri. Karena sejatinya manusia pasti menginginkan hal-hal
positif yang terjadi kepada mereka. Humanistik percaya bahwa manusia bebas
membuat keputusan dan memotivasi dirinya untuk menjadi lebih baik dan penuh
dengan nilai-nilai positif kemanusiaan.
Daftar
pustaka
Lahey, B.B.
(2009). Psychology : An Introduction 10th
Edition. New York : McGraw-Hill.
King, L.A.
(2007). The Science of Psychology : An
Appreciative View. New York : McGraw-Hill.
Santrock, J.W.
(2005). Psychology 7Th Edition.
New York : McGraw-Hill
2.4 Psikoanalisa
Psikoanalisa dikemukakan oleh
psikolog terkenal asal jerman, Sigmund Freud. Freud mengemukakan bahwa hal yang
terpenting dari suatu individu adalah ketidaksadaran ( unconcious mind), karena di dalam ketidaksadaran terdapat
dorongan-dorongan kuat yang berpengaruh ke tingkah laku dari individu tersebut.
Menurut Freud, konflik yang berasal dari alam bawah sadar adalah sebuah sumber
utama masalah psikologis.
Sebelum
mencanangkan teori psikoanalisa, Freud terlebih dahulu merumuskan bahwa tiap
kepribadian disusun atas tiga sistem penting, yaitu Id, Ego, dan Super ego. Id terletak dalam ketidaksadaran yang dimana seluruh dorongan
primitif berasal dari id. Dorongan
primitif tersebut contohnya adalah hasrat sesual, keinginan untuk
mempertahankan hidup,keinginan yang melibatkan agresi seperti marah,dorongan
untuk berkelahi dan sebagainya. Prinsip dari id adalah prinsip kesenangan (pleasure
principle) yang bertujuan untuk memenuhi dorongan primitif tersebut.
Sementara
super ego merupakan kebalikan dari id. Super ego berisi segala seusatu yang
dibentuk oleh kebudayaan. Seluruh kebaikan yang telah di bentuk berada di super ego yang dapat menjalankan
kehidupan sesuai peraturan dan norma yang berlaku serta juga dapat
mengendalikan atau menekan id dalam
diri kita. Oleh karena itu terjadilah
saling dorong-mendorong antara id dan
super ego. Disinilah teori
psikodinamika Freud kelihatan.
Sementara
ego adalah sistem dimana kedua
dorongan antara id dan super ego saling beradu. Ego harus mampu mengkondisikan atau
menstabilkan kedua dorongan tersebut agar keharmonisan sistem dapat terjaga. Ego mempunyai mekanisme pertahanan agar
dapat menstabilkan dorongan dari id
dan super ego. Mekanisme tersebut
adalah:
1. Represi
Represi adalah proses menekan hal yang
mengganggu atau mengancam bagi ego
kedalam ketidaksadaran dan di simpan selamanya agar hal tersebut tidak
mengganggu ego lagi. Berbeda dengan
lupa,kalau lupa sewaktu waktu akan ingat namun kalau represi ia tidak akan
muncul lagi kedalam kesadaran.
2. Pembentukan
reaksi
Seseorang bereaksi sebaliknya agar tidak
melanggar dari ketentuan super ego.
Dengan kata lain dorongan id dapat
ditekan oleh dorongan super ego agar tidak melanggar norma norma.
3. Proyeksi
Super
ego melarang kita untuk memiliki suatu
perasaan atau sikap terhadap orang lain tentang suatu yang buruk,oleh karna itu
kita disini mencermin kan atau mengibaratkan diri kita dengan orang lain yang
ingin kita anggap buruk tadi,bahwa seolah olah kitalah yang buruk agar kita
tidakmelanggar norma-norma.
4. Penempatan
yang keliru
Karena seseorang yang tidak dapat
melampiakan perasaan tertentu karena hambatan dari super ego, maka ia melampiaskannya ke orang ketiga.
5. Rasionalisasi
Segala dorongan yang tidak dapat
dibenarkan oleh super ego akan
dicarikan penalaran sedemikian rupa sehingga seolah olah dorongan tersebut
dapat dibenarkan.
6. Supresi
Supresi juga merupakan menekan hal yang
mengganggu ego kedalam ketidaksadaran
agar tidak muncul lagi ke kesadaran. Bedanya dengan represi, supresi sendiri
hal yang mengganggunya itu berasal dari ketidaksadaran itu sendiri.
7. Sublimasi
Segala dorongan yang tidak dapat
dibenarkan oleh super ego tetap
dilakukan tetapi dalam wujud yang lebih sesuai kedalam tuntutan masyarakat.
8. Kompensasi
Usaha untuk menutupi kelemahan ego di suatu bidang agar tidak terlihat
buruk dengan cara menonjolkan prestasi di bidang yang lain.
9. Regresi
Adalah suatu kemunduran ke tahap
perkembangan yang lebih rendah untuk menghindari kegagalan-kegagalan atau
ancaman terhadap ego.
Daftar Pustaka
Hall, C.S.
(1995). Freud Seks, Obsesi, Trauma, dan
Katarsis. Jakarta : Delapratasa.
Lahey, B.B.
(2009). Psychology : An Introduction 10th
Edition. New York : McGraw-Hill.
Hall, C.S.
(1995). Freud Seks, Obsesi, Trauma, dan
Katarsis. Jakarta : Delapratasa.
Sarwono,
S.W. (2002). Bekenalan Dengan Aliran-Aliran
Dan Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta : Bulan Bintang.
2.5 Neuroscience
Neuroscience
dalam psikologi termasuk kedalam aliran psikologi yang berkembang pesat
beberapa tahun terakhir. Paham ini berfokus mengkaji secara ilmiah tentang
struktur, fungsi, perkembangan, genetika,dan biokimia dari sistem saraf
termasuk otak. Para psikolog yang menganut paham ini berfikiran bahwa otak dan
sistem saraf mempunyai bagian penting untuk mengontrol dan menimbulkan emosi
dalam diri seseorang, berpikir, berbicara dan kegiatan lainnya. Mereka juga
berusaha menentukan sejauh mana karakteristik psikologi di tentukan dari gen
yang di turunkan atau sesuai hereditas.
Selain
itu paham ini juga mempelajari hubungan antara struktur dan fungsi otak dengan
proses dan perilaku psikologis. Mereka percaya masing masing dari sistem syaraf
dan otak mempunyai fungsi nya masing masing dan memiliki peran penting dalam
menentukan perilaku kita. Semua kemampuan kita dalam menjalani kehidupan tidak
akan mungkin dapat terjadi kalau kita tidak memiliki sistem saraf dan otak.
Saraf dan otak sendiri memiliki sistem yang paling rumit dari individu.
Biasanya jiwa yang sehat tercipta dari susunan saraf dan otak yang sehat pula.
Neuroscience
ini biasanya lebih mendetail ke klinis bahasannya karena menyangkut atau
menyinggung kajian dari biopsikologi. Oleh karena itu, pandangan psikologi tidak
hanya tentang perilaku kita,alam sadar atau bawah sadar kita,tetapi juga
menyangkut anatomi dan fisiologis dari individu tersebut.
Daftar Pustaka
Lahey, B.B.
(2012). Psychology : An Introduction 11th
Edition. New York : McGraw-Hill.
King, L.A. (2007).
The Science of Psychology : An
Appreciative View. New York : McGraw-Hill.
Santrock, J.W.
(2005). Psychology 7Th Edition.
New York : McGraw-Hill.
2.6 Psikologi
Positif
Psikologi Positif adalah aliran baru
atau aliran kontemporer dalam psikologi, yang berkembang pada awal abad ke-21,
yang dimana pada aliran ini psikolog sepakat dan berpendapat bahwa kajian dari
psikologi bukan hanya tentang keburukan atau gangguan mental seorang individu
tetapi psikologi adalah sebagai ilmu yang cakupannya sangat luas yang
mempelajari perilaku,kepribadian manusia mulai dari yang terburuk hingga yang
terbaik. Pada aliran ini para psikolog berpendapat bahwa sebenarnya dalam
psikologi sendiri lebih banyak mempelajari sisi baik/positif dari manusia.
Aliran
ini menekankan bahwa setiap manusia itu pada hakikatnya istimewa,berharga, dan
mempunyai kemampuannya tersendiri. Pelopor aliran ini adalah Mihaly
Csikszentmihalyi dan Martin Seligman, dua psikolog Amerika yang sangat
berpengaruh. Pada tahun 2000, mereka mencanangkan aliran psikologi positif
untuk lebih mendalami tiga topik ini :
a. Pengalaman
manusia yang berharga seperti harapan,optimisme dan kebahagiaan.
b. Sifat-sifat
positif dalam suatu individu, yakni kemampuan untuk mencintai, bekerja,
kreativitas, bakat, dan kemampuan interpersonal.
c. Nilai
nilai positif dalam kelompok dan sipil seperti tanggung jawab, tata krama dan
toleransi.
Jadi
aliran ini menekankan kepada kita bahwa psikologi itu Cuma membahas sakit
mental,gangguan atau sisi negatif dari seorang individu melainkan lebih kepada
sisi positif atau kesehatan jiwa dari individu itu sendiri. Menyamaratakan
psikologi dengan hal-hal yang abnormal itu adalah sebuah kesalahan karena di
dalam psikologi sebenarnya kita mempelajari nilai-nilai normal agar dapat
mengetahui dan memahami objek yang sedang kita teliti/amati.
Daftar
Pustaka
Santrock, J.W.
(2005). Psychology 7Th Edition.
New York : McGraw-Hill
Lahey, B.B.
(2012). Psychology : An Introduction 11th
Edition. New York : McGraw-Hill.
Maisto, A.A.,
& Morris, C.G. (2005). Basic
Psychology. New Jersey : Pearson Prentice Hall.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
- Behaviorisme adalah suatu paham yang berfokus pada pengalaman sadar individu dengan menitik beratkan perilaku dari individu itu di pengaruhi oleh lingkungan sekitar dan mengalami proses asosiasi atau pembelajaran/latihan.Tokohnya: Ivan Pavlov, John B. Watson, Margaret Floy Washburn, B.F Skinner.
- Kognitif adalah proses mental,dimana merujuk pada kemampuan intelektual seperti berfikir,mengingat,memahami,memutuskan,dsb.
- Humanistik adalah pandangan dimana manusia mempunyai kecendrungan bawaan untuk mengubah,memperbaiki dan menentukan hidup mereka ke arah yang lebih baik dengan keputusan di bantu motivasi yang mereka buat sendiri. Tokohnya: Abraham Maslow, Carl Rogers dan Viktor Frankl.
- Psikoanalisa dikemukakan oleh Sigmund Freud dimana menitik beratkan kepada kemampuan ketidaksadaran dari individu. Menurut Freud, konflik dalam akal bawah sadar adalah sumber utama masalah psikologi. Struktur kepribadian manusia adalah id,superego dan ego.
- Neuroscience berfokus pada susunan sistem saraf dan otak dalam menentukan emosi,perilaku dan mental proses.
- Psikologi positif adalah perspektif ilmiah tentang bagaimana membuat hidup lebih berharga dan bermakna. Tujuannya adalah memberikan pandangan terhadap manusia dari sisi yang baiknya.
3.2 Saran
Semoga penjelasan saya tentang
materi di atas dapat dipahami dan dapat bermanfaat bagi pembaca. Bila terdapat
kesalahan pada penulisan makalah saya hendaklah saya dapat menerima masukan
dari para pembaca untuk perbaikan kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Lahey, B.B.
(2009). Psychology : An Introduction 10th
Edition. New York : McGraw-Hill.
Maisto, A.A.
& Morris, C.G. (2005). Basic
Psychology. New Jersey : Pearson Prentice Hall.
King, L.A.
(2007). The Science of Psychology : An
Appreciative View. New York: McGraw-Hill.
Santrock, J.W.
(2005). Psychology 7Th Edition.
New York : McGraw-Hill
Hall, C.S.
(1995). Freud Seks, Obsesi, Trauma, dan
Katarsis. Jakarta : Delapratasa.
Sarwono,
S.W. (2002). Bekenalan Dengan Aliran-Aliran
Dan Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta : Bulan Bintang
Rabu, 12 Desember 2018
Perceraian Dan Anak Remaja
Perceraian Orang Tua dan Anak Remaja
➢ Pendahuluan
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini anak remaja lebih mudah terpengaruhi oleh teman sebaya dan lebih mementingkan solidaritas kelompok serta emosi yang tidak stabil dapat membuat remaja menjadi moody-an dan mudah terjerumus ke perilaku menyimpang. Remaja juga harus beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikisnya dalam bentuk pencarian jati diri dan membentuk hubungan baru sebagai pengekspresian seksual. Sehingga menuntut remaja untuk dapat memutuskan,merencanakan,mengontrol dan mengarahkan tindakan dalam suatu tujuan hidup agar dapat diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu,proses adaptasi sangat penting dan sangat mempengaruhi remaja dalam pencarian jati diri dan dalam penyeimbangan empsi agar terpenuhinya tujuan hidup dan dapat diterima oleh masyarakat.
Kegagalan dalam penyesuaian diri anak remaja yang menjadi korban perceraian orangtua menyebabkan remaja mendapat kesulitan dalam menyesuaikan dirinya pada suatu kondisi yang baru, akhirnya di dalam dirinya timbul perasaan kegelisahaan, sedih, marah dan konflik bathin yang hal ini termanifestasi dalam bentuk perbuatanya seperti tidak dapat memusatkan perhatian, kurang semangat disebabkan oleh perceraian orang tua. Peristiwa ini dapat mengganggu kehidupannya, maka ia takut menjalin persahabatan, takut berusaha keras di sekolah, sehingga mengakibatkan kesulitan dalam belajar yang mempengaruhi prestasinya di sekolah.
➢ Dampak perceraian
Perceraian akan membawa dampak negative bagi seluruh keluarga. Traumatis pada kedua pasangan yang bercerai maupun pada anak,dan menimbulkan ketidakstabilan dalam pekerjaan maupun sekolah. Hal ini menimbulkan psikologis yang tidak stabil,perasaan marah sedih,merasa tidak berharga,sedih dan tidak nyaman selalu menghantui sehingga dapat mengganggu kehidupan sehari hari.
➢ Pembahasan
Peristiwa perceraian dalam keluarga senantiasa membawa dampak yang mendalam.Kasus ini menimbulkan stres dan menimbulkan
perubahan fisik, juga mental.Keadaan ini dialami oleh semua anggota keluarga, ayah, ibu, dan anak. Data dari Pengadilan Agama Samarinda menyatakan bahwa angka kasus perceraian terhadap perkawinan dari 3 tahun terakhir menunjukan angka yang cukup besar. Tahun 2009 kasus perceraian yang terjadi mencapai angka 1.383 perkara, tahun 2010 terjadi penurunan kasus perceraian dengan angka 1.189 perkara, dan pada tahun 2011 mengalami kenaikan kembali dengan angka 1.282 perkara. (Ningrum, 2013)
Perceraian bagi remaja merupakan suatu cobaan yang besar, dimana remaja merasa tidak dicintai lagi dan remaja kehilangan kepercayaan akan adanya cinta sejati. Gejolak emosi pada remaja bisa saja membuat remaja menjadi gagal dalam beradaptasi. Perceraian bagi anak adalah tanda kematian keutuhan keluarganya, rasanya separuh diri anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orangtua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam, perasaan kehilangan, penolakan dan ditinggalkan akan merusak kemampuan anak berkonsentrasi di sekolah. Dampak yang bisa terjadi pada anak remaja dari pasangan bercerai, biasanya dari segi psikis. Seperti perasaan malu, sensitif, rendah diri. Sehingga perasaan tersebut dapat membuat remaja menarik diri dari lingkungan.
Perceraian dan perpisahan orang tua menjadi faktor yang sangat berpengaruh bagi pembentukan perilaku dan kepribadian remaja sehingga terjadi kenakalan remaja. Peneliti bertujuan untuk meneliti mengenai Juvenile Delinquency (Kenakalan Remaja) pada korban perceraian orang tua. Subjek yang diteliti dalam penelitian ini adalah remaja putra yang berusia 16 tahun, korban perceraian orang tua dan memiliki kecenderungan Juvenile Delinquency (kenakalan remaja). Penelitian ini dilakukan secara studi kasus, dengan pengumpulan data dan menggunakan metode wawancara sebagai metode utama, observasi dan pengamatan. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil, bahwa subjek yang memiliki orang tua yang bercerai mengalami kerinduan terhadap figur kedua orang tua. Hal ini terjadi karena subjek telah kehilangan kedua orang tua untuk panutan masa depannya. Perceraian Orang Tua Keluarga merupakan lingkungan terdekat untuk membesarkan, mendewasakan dan didalamnya remaja mendapatkan pendidikan pertama kali. Setiap orang pasti mendambakan keluarga yang harmonis, keluarga yang penuh dengan rasa aman, tenang, riang gembira dan saling menyayangi diantara anggota keluarga. (Prihatinningsih, 2011)
Penelitian lain juga dilakukan untuk mendapatkan hasil yang akurat. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif yang berjumlah sepuluh remaja dari keluarga bercerai. Mereka diambil secara purposive sampling. Teknik pengumpulan data memakai teknik observasi dan wawancara mendalam untuk menggali data dari informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman remaja berada dalam keluarga bercerai adalah masa sulit. Pengalaman menjadi remaja terlantar dikomunikasikan secara verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal remaja tercerahkan adalah bahasa motivatif dan keterbukaan. Sedangkan secara non verbal yaitu mengikuti nasihat, penuh kenyamanan, dan penampilan positif. Mereka menjadi remaja-remaja yang memiliki nilai kebaikan dalam konsep diri religius, independen, futuristik, dan maturitas. (Supratman, 2015)
DAFTAR PUSTAKA
Ningrum, P. R. (2013). Perceraian Orang Tua dan Penyesuaian Diri Remaja. Jurnal Psikologi, 1(1), 69–79. Retrieved from http://ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2013/04/JURNAL SKRIPSI PUTRI PDF (04-04-13-09-50-30).pdf
Prihatinningsih, S. (2011). Juvenile Delinquency ( Kenakalan Remaja ) Pada Remaja Putra Korban Perceraia Orang Tua. Jurnal Psikologi Uviversitas Gunadarma.
Supratman, L. P. (2015). KONSEP DIRI REMAJA DARI KELUARGA BERCERAI. Jurnal Penelitian Komunikasi. https://doi.org/10.20422/jpk.v18i2.42
➢ Pendahuluan
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini anak remaja lebih mudah terpengaruhi oleh teman sebaya dan lebih mementingkan solidaritas kelompok serta emosi yang tidak stabil dapat membuat remaja menjadi moody-an dan mudah terjerumus ke perilaku menyimpang. Remaja juga harus beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikisnya dalam bentuk pencarian jati diri dan membentuk hubungan baru sebagai pengekspresian seksual. Sehingga menuntut remaja untuk dapat memutuskan,merencanakan,mengontrol dan mengarahkan tindakan dalam suatu tujuan hidup agar dapat diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu,proses adaptasi sangat penting dan sangat mempengaruhi remaja dalam pencarian jati diri dan dalam penyeimbangan empsi agar terpenuhinya tujuan hidup dan dapat diterima oleh masyarakat.
Kegagalan dalam penyesuaian diri anak remaja yang menjadi korban perceraian orangtua menyebabkan remaja mendapat kesulitan dalam menyesuaikan dirinya pada suatu kondisi yang baru, akhirnya di dalam dirinya timbul perasaan kegelisahaan, sedih, marah dan konflik bathin yang hal ini termanifestasi dalam bentuk perbuatanya seperti tidak dapat memusatkan perhatian, kurang semangat disebabkan oleh perceraian orang tua. Peristiwa ini dapat mengganggu kehidupannya, maka ia takut menjalin persahabatan, takut berusaha keras di sekolah, sehingga mengakibatkan kesulitan dalam belajar yang mempengaruhi prestasinya di sekolah.
➢ Dampak perceraian
Perceraian akan membawa dampak negative bagi seluruh keluarga. Traumatis pada kedua pasangan yang bercerai maupun pada anak,dan menimbulkan ketidakstabilan dalam pekerjaan maupun sekolah. Hal ini menimbulkan psikologis yang tidak stabil,perasaan marah sedih,merasa tidak berharga,sedih dan tidak nyaman selalu menghantui sehingga dapat mengganggu kehidupan sehari hari.
➢ Pembahasan
Peristiwa perceraian dalam keluarga senantiasa membawa dampak yang mendalam.Kasus ini menimbulkan stres dan menimbulkan
perubahan fisik, juga mental.Keadaan ini dialami oleh semua anggota keluarga, ayah, ibu, dan anak. Data dari Pengadilan Agama Samarinda menyatakan bahwa angka kasus perceraian terhadap perkawinan dari 3 tahun terakhir menunjukan angka yang cukup besar. Tahun 2009 kasus perceraian yang terjadi mencapai angka 1.383 perkara, tahun 2010 terjadi penurunan kasus perceraian dengan angka 1.189 perkara, dan pada tahun 2011 mengalami kenaikan kembali dengan angka 1.282 perkara. (Ningrum, 2013)
Perceraian bagi remaja merupakan suatu cobaan yang besar, dimana remaja merasa tidak dicintai lagi dan remaja kehilangan kepercayaan akan adanya cinta sejati. Gejolak emosi pada remaja bisa saja membuat remaja menjadi gagal dalam beradaptasi. Perceraian bagi anak adalah tanda kematian keutuhan keluarganya, rasanya separuh diri anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orangtua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam, perasaan kehilangan, penolakan dan ditinggalkan akan merusak kemampuan anak berkonsentrasi di sekolah. Dampak yang bisa terjadi pada anak remaja dari pasangan bercerai, biasanya dari segi psikis. Seperti perasaan malu, sensitif, rendah diri. Sehingga perasaan tersebut dapat membuat remaja menarik diri dari lingkungan.
Perceraian dan perpisahan orang tua menjadi faktor yang sangat berpengaruh bagi pembentukan perilaku dan kepribadian remaja sehingga terjadi kenakalan remaja. Peneliti bertujuan untuk meneliti mengenai Juvenile Delinquency (Kenakalan Remaja) pada korban perceraian orang tua. Subjek yang diteliti dalam penelitian ini adalah remaja putra yang berusia 16 tahun, korban perceraian orang tua dan memiliki kecenderungan Juvenile Delinquency (kenakalan remaja). Penelitian ini dilakukan secara studi kasus, dengan pengumpulan data dan menggunakan metode wawancara sebagai metode utama, observasi dan pengamatan. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil, bahwa subjek yang memiliki orang tua yang bercerai mengalami kerinduan terhadap figur kedua orang tua. Hal ini terjadi karena subjek telah kehilangan kedua orang tua untuk panutan masa depannya. Perceraian Orang Tua Keluarga merupakan lingkungan terdekat untuk membesarkan, mendewasakan dan didalamnya remaja mendapatkan pendidikan pertama kali. Setiap orang pasti mendambakan keluarga yang harmonis, keluarga yang penuh dengan rasa aman, tenang, riang gembira dan saling menyayangi diantara anggota keluarga. (Prihatinningsih, 2011)
Penelitian lain juga dilakukan untuk mendapatkan hasil yang akurat. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif yang berjumlah sepuluh remaja dari keluarga bercerai. Mereka diambil secara purposive sampling. Teknik pengumpulan data memakai teknik observasi dan wawancara mendalam untuk menggali data dari informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman remaja berada dalam keluarga bercerai adalah masa sulit. Pengalaman menjadi remaja terlantar dikomunikasikan secara verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal remaja tercerahkan adalah bahasa motivatif dan keterbukaan. Sedangkan secara non verbal yaitu mengikuti nasihat, penuh kenyamanan, dan penampilan positif. Mereka menjadi remaja-remaja yang memiliki nilai kebaikan dalam konsep diri religius, independen, futuristik, dan maturitas. (Supratman, 2015)
DAFTAR PUSTAKA
Ningrum, P. R. (2013). Perceraian Orang Tua dan Penyesuaian Diri Remaja. Jurnal Psikologi, 1(1), 69–79. Retrieved from http://ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2013/04/JURNAL SKRIPSI PUTRI PDF (04-04-13-09-50-30).pdf
Prihatinningsih, S. (2011). Juvenile Delinquency ( Kenakalan Remaja ) Pada Remaja Putra Korban Perceraia Orang Tua. Jurnal Psikologi Uviversitas Gunadarma.
Supratman, L. P. (2015). KONSEP DIRI REMAJA DARI KELUARGA BERCERAI. Jurnal Penelitian Komunikasi. https://doi.org/10.20422/jpk.v18i2.42
Langganan:
Postingan (Atom)

